Showing posts with label Berita. Show all posts
Showing posts with label Berita. Show all posts

Kodim dan RT/RW Seluruh Indonesia Diminta Putar Film G30S PKI



Wacana pemutaran kembali film dokumenter G30S PKI mengemuka di media sosial. Banyak warganet yang setuju jika film tersebut kembali diputar di stasiun televisi nasional guna membekali generasi muda akan bahaya komunisme.

“Stuujuuu skali..soalnya gnerasi skarang tdak mengenal sjarah..jd nya cuek...pake baju berlambang palu arit malah bangga..dan unik katanya.. pdahal lambang itu pnya sjarah kelam bagi rakyat indonesia...pemerintah malah sibuk membrantas ormas...bukan mikrin gnerasi penerus bangsa ini yg makin g jlas....ya alloh berikanlah pemimpin yg amanah bagi bangsa ini..amiiiin..,” tulis pemilik akun Uciha Madara dalam wall fanpage Facebook Voa Islam, Senin (11/9/2017).

Hal senada juga disampaikan pemilik akun Noor Thaibah. “Sangat2 setuju supaya generasi muda kita tahu bagaimana kejamnya PKI membunuh ulama2 kita dan yang tidak sepaham dgn idiologi mereka pokoknya berantas PKI sampai keakar-akarnya supaya jangan hidup dibumi Indonesia yang berazaskan Pancasila dan UUD 45.”

Pemilik akun Ton Sugyarto mengusulkan agar tak hanya film G30S PKI saja yang ditayangkan rutin. Melainkan juga film-film perjuangan pahlawan nasional. “Pmth dan yg terkait plinplan, film perjuangan dan kepahlawanan spt 10 Nopember, Jend besar Sudirman, Diponegoro, Cut Nyak Din, termasuk Gestok /G30S spt penting utk menumbuhkan nasionalisme pd generasi muda indonesia, sekaligus menumbuhkan rasa cinta pd tanah air dan bangsa, persatuan diantara suku menepis rasisme, bukan kebarat"an dan mengandalkan sikap dan sifat apatis,” ungkap Ton Sugyarto.

Namun, tampaknya wacana ini dirasa sulit direalisasikan mengingat adanya beberapa regulasi. Misalnya regulasi tentang penyiaran yang tidak membolehkan tayangan kekerasan pada layar kaca.

Beberapa warganet memberi solusi agar film G30S PKI tetap dapat disaksikan, yakni dengan cara nonton bareng di wilayah masing-masing.

“Gimana kalau kita minta TNI yang memutar nya di seluruh kodim/babinsa,” usul akun Iriansyah IR.

Ahmad Jumhari mengusulkan, “Kalo saya sih setuju bangat,,,,lgian film tuh udh lama bangat gak disiarkan ditelevisi jd sy kangen untuk melihat kekejian pki,,,,mungkin harus disiarkan melalui layar tancap disetiap rt/rw setempat kali ya biar stiap warga bisa berkumpul untuk melihatnya filmnya dan bisa bersilaturahmi juga sesama warga.
Read More »

MS Ka'ban : Ingin Cabut TAP MPRS? Siap-siap Berhadapan dengan TNI, Umat Islam, & Kaum Nasionalis

Apabila ada oknum massa yang ingin mencabut peraturan bahwa PKI dilarang oleh Negara, maka mereka dikatakan oleh politisi PBB tentu akan menghadapi para tentara, rakyat, dan juga kaum-kaum nasionalis-agamis.
Pasalnya, penetepan pembubaran PKI sebagaimana yang termaktud di TAP MPRS itu menurut MS Ka'ban adalah ketetapan abadi, yang artinya sebuah maklumat/dokumen sejarah RI.
"TAP MPRS NO. XXV/66 abadi. Dokumeen NKRI. Mau cabut harus bikin revolusi. Revolusi, TNI, umat Islam dan kaum nasionalis bersatu tak terkalahkan," ia mengingatkan, melalui akun Twitter pribadi miliknya, belum lama ini.
Di lain soal, bagi Ka'ban pengikut atau simpatisan PKI tidaklah lebih dari para penipu, yang hanya ingin merebut kekuasaan dengan cara-cara inkonstitusional. "Kalau komunis teriak demokrasi, itu pasti tipu muslihat rebut kekuasaan. Habis itu disikat seluruh kontra revolusi.
PKI, Tuhan saja dinafikan, apalagi cuma sejarah, so pasti diingkari, dipulas, diputar-balik. Tipu muslihat. Begitulah mental pengkhianat."
Pun soal pemutaran film G30S/PKI secara bersama-sama dinilai Ka'ban seharusnya tidak perlu dijadikan polemik. Yang setuju nonton, yang tidak sebaliknya tetapi harus tetap setia kepada UUD.
"Tidak perlu ada polemik nobar film G30S/PKI. Itu fakta sejarah. Tidak boleh dilupakan. Yang tidak setuju, tidak perlu nonton, tapi tetap bela UUD 45.
Perintah Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo tentang nobar film G30S/PKI patut didukung dan dilaksanakan. Sekalian meriahkan tahun baru Hijriah dan 10 Muharam.
Tahun baru Hijriah 1439 tahun baru Islam, membangun peradaban NKRI sesuai amanat Pembukaan UUD 45. PKI tidak ada tempat di NKRI."



Credit(://www.voa-islam.com/)
Read More »

COVER STORY September 2017: Kejam, Beginilah Hasil Otopsi Tujuh Jenderal Korban PKI


Tak banyak masyarakat yang tahu dengan hasil otopsi tujuh jenazah jenderal yang menjadi korban kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI). 
 
Intisari edisi September 2009 dalam judul “Saksi Bisu dari Ruang Forensik” mencoba mengurai itu; mengungkap faktra-fakta yang tersembunyi di balik bangsal-bangsal forensik. 
 
Tepatnya setelah para korban G30S ditemukan di dalam sumur di Lubang Buaya, Jakarta Timur, 4 Okotober 1965. Tujuh mayat jenderal itu lantas dibawa ke RSPAD guna diotopsi.
 
Untuk keperluan otopsi jenazah-jenazah jenderal tersebut dibuatlah tim yang terdiri dari dua dokter RSPAD, yaitu dr Brigjen. Roebiono Kartopati dan dr. Kolonel. Frans Pattiasina; lalu ada tiga dari Ilmu Kedokteran Kehakiman UI, Prof. dr. Sutomi Tjokronegoro, dr. Liau Yan Siang, dan dr. Lim Joe Thay.
 
Berikut hasil otopsinya. 
 
Achmad Yani
 
-- Luka Tembak masuk: 2 di dada kiri, 1 di dada kanan bawah, 1 di lengan kanan atas, 1 di garis pertengahan perut, 1 di perut bagian kiri bawah, 1 perut kanan bawah, 1 di paha kiri depan, 1 di punggung kiri, 1 di pinggul garis pertengahan.
 
-- Luka tembak keluar: 1 di dada kanan bawah, 1 di lengan kanan atas, 1 di punggung kiri sebelah dalam.
 
-- Kondisi lain: sebelah kanan bawah garis pertengahan perut ditemukan kancing dan peluru sepanjang 13 mm, pada punggung kanan iga kedelapan teraba anak peluru di bawah kulit.
 
R. Soeprapto
 
-- Luka tembak masuk: 1 di punggung pada ruas tulang punggung keempat, 3 di pinggul kanan (bokong), 1 di pinggang kiri belakang, 1 di pantat sebelah kanan, 1 di pinggang kiri belakang, 1 di pantat sebelah kanan, 1 di pertengahan paha kanan.
 
- Luka tembak luar: 1 di pantat kanan, 1 di paha kanan belakang.
 
-- Luka tidak teratur: 1 di kepala kanan di atas telinga, 1 di pelipis kanan, 1 di dahi kiri, 1 di bawah cuping kiri.
 
-- Kondisi lain: tulang hidung patah, tulang pipi kiri lecet.
 
M.T Haryono
 
-- Luka tidak teratur: 1 tusukan di perut, 1 di punggung tangan kiri, 1 di pergelangan tangan kiri, 1 di punggung kiri (tembus dari depan).
 
Soetojo Siswomiharjo
 
-- Luka tembak masuk: 2 di tungkai kanan bawah, 1 di atas telinga kanan.
 
- Luka tembak keluar: 2 di betis kanan, 1 di atas telinga kanan.
 
-- Luka tidak teratur: 1 di dahi kiri, 1 di pelipis kiri, 1 di tulang ubun-ubun kiri,  di dahi kiri tengkorak remuk.
 
-- Penganiayaan benda tumpul: empat jari kanan.
 
S. Parman
 
-- Luka tembak masuk: 1 di dahi kanan, 1 di tepi lekuk mata kanan, 1 di kelopak atas mata kiri, 1 di pantat kiri, 1 paha kanan depan.
 
-- Luka tembak keluar: 1 di tulang ubun-ubun kiri, 1 di perut kiri, 1 di paha kanan belakang.
 
-- Luka tidak teratur: 2 di belakang daun telinga kiri, 1 di kepala belakang, 1 di tungkai kiri bawah bagian luar, 1 di tulang kering kiri.
 
-- kekerasan tumpul: tulang rahang atas dan bawah.
 
 
D.I Panjaitan
 
-- Luka tembak masuk: 1 di alis kanan, 1 di kepala atas kanan, 1 di kepala kanan belakang, 1 di kepala belakang kiri.
 
-- Luka tembak keluar: 1 di pangkal telinga kiri.
 
-- Kondisi lain: punggung tangan kiri terdapat luka iris.
 
 
P. Tendean
 
-- Luka tembak masuk: 1 di leher belakang sebelah kiri, 2 di punggung kanan, 1 di pinggul kanan.
 
-- Luka tembak keluar: 2 di dada kanan.
 
-- Luka tidak teratur: 1 di kepala kanan, 1 di tulang ubun-ubun kiri, 1 di puncak kepala.
 
-- Kondisi lain: lecet di dahi dan pangkal dua jari tangan kiri




Sumber:(https://www.voa-islam.com/read/politik-indonesia/2017/09/22/53319/cover-story-september-2017-kejam-beginilah-hasil-otopsi-tujuh-jenderal-korban-pki/)
Read More »

Prof DR Aminudin Kasdi : Jangan Percaya Omongan Orang PKI Karena Pasti Bohong

Satu ciri khas PKI yang kita dengar dari orang-orang tua yang mengalami hidup dan berhadap-hadapan dengan PKI adalah mulutnya selalu berbohong. Omonganya tidak bisa di pegang memutar balikkan fakta dengan cara dramatis hingga lawan bicara terpesona dengan segala bualannya.
Sejarawan dan Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof DR Aminudin Kasdi menyampaikan bahwa masyarakat harus tetap waspada dan berhati hati dengan segala isu seolah olah PKI itu tidak kejam, bukan anti agama dan tetap berjuang untuk NKRI.
“Saya menemukan dokumen kecil berupa rencana pemberontakan PKI dengan target untuk mendirikan Negara Komunis Indonesia. Dokumen itu berupa buku kecil semacam buku saku tentang ABC Revolusi yang ditulis Comite Central PKI pada 1957 yang isinya menyebut tiga rencana revolusi atau pemberontakan oleh PKI dengan target Negara Komunis Indonesia.” Ujarnya, Selasa, (19/9).
Contoh kecil yang bisa kita saksikan dan publik seluruh Indonesia bisa menyaksikan sekaligus membuktikan kebohongan kader PKI adalah seperti yang di tunjukkan dan diperagakan oleh Ilham Aidit anak kandung DN Aidit.
Ilham Aidit memanfaatkan posisi dia sebagai anak Aidit untuk menghancurkan kepercayaan publik pada Film G/30/S/PKI yang akan di tonton kembali oleh publik nasional dengan bercerita soal DN Aidit yg tidak merokok, publik pasti akan percaya karena Ilham adalah anak kandung DN Aidit, dengan mengkritik fakta kecil bahwa sesungguhnya menurut Ilham dan Ibunya (istri Aidit) DN Aidit tidak merokok seolah-olah dia ingin mengatakan bahwa seluruh film itu tidak benar.
Tapi faktanya apa begitu banyak tersebar bahwa sesungguhnya DN Aidit adalah perokok berat, majalah Intisari yg mewawancari pada 1964 merekam fakta sepanjang wawancara selama 2 jam DN Aidit merokok.
Majalah Tempo membuat laporan bahwa menjelang eksekusi DN Aidit meminta rokok dan fakta yang tidak bisa terbantahkan photo ini memperlihatkan DN Aidit sedang membawa rokok/cerutu.
Sungguh benar pesan dari para orang tua tentang PKI: Ojo pisan-pisan Percoyo karo ilate PKI ( jangan sekali-kali percaya sama lidah omongan Orang2 PKI) demikian setidaknya pesan Prof Dr Aminudin Kasdi Sejarawan sekaligus pelaku sejarah yg berhadap-hadapan dengan PKI.
“Sekali lagi PKI adalah pembohong memutar balikkan fakta dan sejarah jangan pernah dengar dan percayai apapun versi cerita mereka kalau anda ingin selamat dari fitnah dunia hingga akhirat,” pungkasnya.






Sumber:(gemarakyat.id)
Read More »

GNPF MUI Setuju Usulan Jokowi Perbarui Film G30S/PKI, Asalkan jangan mengubah sejarah bahwa PKI adalah organisasi terlarang

Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI Bachtiar Nasir sepakat instruksi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo kepada jajaran TNI untuk menyelenggarakan pemutaran film Pengkhianatan G30S/PKI. Menurut pimpinan AQL Islamic Center kegiatan tersebut akan menambah khazanah berpikir anak-anak muda.
“‎Saya positif sekali untuk saat ini pemutaran film G30S/PKI dan supaya umumnya anak-anak muda yang sudah nggak aware lagi dan kurang informasi seputar ini, saya kira perlu,” kata Nasir ditemui di Masjid Al-Azhar, Jalan Sisingamaraja, Jakarta Selatan, Kamis (21/9/2017).
Bachtiar juga sepakat dengan usulan Presiden Joko Widodo agar konten film G30S/PKI diperbarui agar bisa lebih diterima oleh anak-anak generasi milenial.
“‎Tapi dengan tidak mengurangi substansi, jangan sampai mengurangi substansi, dan informasi, dan tidak terjadi distorsi sejarah, saya kira ide bagus,” kata Nasir.
Menurut Nasir pembaruan konten film bisa dilakukan asalkan jangan mengubah sejarah bahwa PKI adalah organisasi terlarang sesuai dengan TAP MPR XXV/1966.
“Ya saya kira yang kita tinjau dari sisi undang-undang dasar saja. Berdasarkan TAP MPR. Jadi tetap (PKI) terlarang,” tuturnya.




sumber:(gemarakyat.id)
Read More »

Refleksi Peristiwa 9/11 (WTC)

Oleh: Imam Shamsi Ali*

Di hari lebaran Jumat, 1 September lalu, adalah hari yang cukup padat bagi saya. Jam 5:30 mengisi pengajian singkat tentang adab-adab Idul Adha. Pukul 8 pagi memberikan ceramah umum di hadapan jamaah Idul Adha Jamaica Muslim Center, yang dihadiri tidak kurang dari 10.000 jamaah. Lalu jam 9 menyampaikan khutbah Idul Adha di masjid Al-Hikmah, masjid milik warga Indonesia di kota New York. Lalu segera setelah melaksanakan Idul Adha, saya melanjutkan kegiatan di daerah WTC, yang saat ini lebih dikenal dengan 9/11 Memorial museum, di kawasan Downtown New York.
Acara di gedung WTC ini sesungguhnya sudah merupakan rangkaian dari peringatan terjadinya serangan terror ke kota New York sekitar 16 tahun silam. Di sinilah kehebatan Amerika dalam membangun imej dan mempromosikan apa yang dianggap memberikan keuntungan bagi negara dan bangsa ini. Kehebatan Amerika ini menjadikan peristiwa 9/11 tidak saja menjadi seolah ritual tahunan, bahkan tempat kejadiannya (daerah WTC) menjadi destinasi turis yang dikunjungi oleh puluhan juta manusia salam setahunnya. Menurut perugas musium WTC kemarin, ada 36 juta pengunjung hanya dalam tahun 2016 lalu. Dengan harga tiket masuknya sebesar $30, silahkan dikalikan. Tapi yang terpenting dari semua itu adalah peristiwa 9/11 telah dijadikan sebagai “justifikasi” awal peperangan kepada terorisme internasional (war against international terrorism). Dan karena Islam yang tertuduh di saat peristiwa itu terjadi maka peperangan kepada teror dunia juga tidak terlepas dari peperangan kepada apa yang disebut “radical Islam”.
Kembali ke acara yang disebutkan di atas, dihadiri oleh para calon pendeta Katolik (seminarian), dengan tiga pembicara; saya sendiri mewakili komunitas Muslim, Rabbi Joseph Potasnik (Ketua Dewa Rabbi Yahudi New York) dan Kepala Pemadam Kebakaran kota New York di saat peristiwa 9/11 itu terjadi. Yang bertindak sebagai moderator adalah Bishop Massa, yang menjadi koordinator kedatangan Pope Francis ke kota Bew York tahun lalu.
Acara diskusi yang dimoderatori (moderated discussion) ini dimulai dengan pertanyaan kepada semua narasumber tentang pengalaman pribadi di saat tragedi 9/11 terjadi. Kepala pemadam kebakaran NY Cassano bercerita panjang lebar bagaimana para anggota pemadam kebarakan berjuang menyelamat nyawa manusia ketika itu. Mendengarkan itu saya kembali membayangkan di saat kejadian hari itu. Bagaimana kepanikan yang terjadi di kota New York saat itu, ditopang oleh kemajuan media dan informasi menjadikan peristiwa itu tidak saja menggoncang Amerika. Tapi sekaligus menggoncang dunia, bahkan menjadi pewarna hubungan antar manusia (human relations) dunia.
Saya lalu terpikir kalau saja peristiwa yang menimpa Amerika di tahun 2001 dan menelan hampir 3000 nyawa manusia itu terjadi di sebuah negara Islam, entah apakah akan seheboh dengan tragedi 9/11 itu?
Saya diingatkan oleh puluhan ribu, bahkan barangkali ratusan ribu jiwa rakyat sipil yang terbantai di Irak, afghanistan, dan negara-negara Muslim lainnya. Tapi tragedi yang menimpa mereka tidak seheboh seperti apa yang terjadi di bulan September 2001 lalu. Bahkan saat ini pembataian yang terjadi di salah satu negara mayoritas agama yang dicap sebagai agama “non violent” (tanpa kekerasan), agama yang mengajarkan kesejukan dan penghormatan kepada kehidupan. Agama yang menghormati nyawa makhkuk, bahkan nyawa hewan sekalipun. Yaitu agama Buddha di Myanmar. Tapi pembantaian dan kekerasan yang dialami oleh masyarakat Rohingyah itu tidak menjadikan dunia heboh. Bahkan cenderung dunia yang kerap mengaku sebagai pahlawan HAM dan kemanusiaan itu semua diam membisu.
Saya sendiri mendapat pertanyaan yang cukup mengejutkan dan menyudutkan, sekaligus menggambarkan kekurang jujuran. Pertanyaan itu adalah kenapa dalam tahun-tahun terakhir umat Islam semakin banyak yang menjadi radikal (radicalized)? Dan bagaimana sesungguhnya Islam memandang radikalisme? Menentangkah? Atau apakah memang ada justifikasi (pembenaran) radikalisme dari teks-teks agama (religious texts)?
Terus terang pertanyaan seperti ini bukan baru bagi saya. Seringkali di berbagai acara saya mendapatkan pertanyaan yang sama, entah memang untuk tujuan mendapatkan klarifikasi. Atau sebuah pertanyaan dengan tujuan menyudutkan, seolah Islam itu memang demikian.

Oleh karenanya sambil menarik nafas panjang saya memberikan jawaban singkat sebagai berikut:
Satu, mengajak semua pihak untuk sadar sejarah. Bahwa dalam sejarah perjalanan dunia ini, tidak satu pun kelompok manusia yang bisa melepaskan diri dari fase-fase kelam dalam sejarahnya. Tidaklah saya ingkari jika saat ini banyak kejadian-kejadian kekerasan melibatkan orang-orang yang beragama Islam. Tapi apakah dengan itu kelompok lain melupakan sejarah bahwa komunitas mereka pernah juga menjadi pelaku, bahkan lebih buruk dari apa yang melibatkan komunitas Muslim saat ini. Bahkan hingga detik ini, kekerasan-kekerasan di dunia, bahkan di Amerika sendiri, dilakukan mayoritasnya oleh non Muslim. Saya kemudian memberikan contoh-contoh konkrit, termasuk sekali lagi peristiwa pembantaian komunitas Muslim di Myanmar dan Bosnia, bahkan apa yang dialami minoritas di Amerika saat ini. Saya juga sempat menggelitik memori mereka dengan penjajahan dunia barat di Asia dan Afrika.

Dua, pertanyaan ini seolah menuduh jika kekerasan-kekerasan atau teror itu mendapat justifikasi agama dalam Islam. Seolah sumber-sumber keagamaan (religious texts) Islam membenarkan semua itu. Saya mengingatkan bahwa di semua agama-agama ada teks-teks suci (holy texts) yang cenderung membenarkan pertumpahan darah. Saya mengistilahkah ayat-ayat itu dengan “bloody verses”. Dan oleh karenanya diperlukan pemahaman yang komprehensif, tidak sepotong-sepotong, apalagi dipahami di luar konteks yang benar. Yang pasti dalam Islam, bahkan ayat-ayat perang sekalipun tidak dimaksudkan untuk tujuan teror dan pembunuhan kaum sipil. Perang dalam Islam bersifat defensif, sekaligus diikat oleh etika yang tinggi. Singkatnya dalam perang sekalipun, rakyat sipil harus mendapat perlindungan. Oleh karenanya pertanyaan tentang justifikasi Islam terhadap teror adalah “out of context” (tidak pada tempatnya).
Tiga, dalam peristiwa 9/11 di tahun 2001 lalu, komunitas Muslim justeru kelompok yang paling menderita (korban). Untuk Muslim Amerika, selain karena kita adalah bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa ini dan karenanya merasakan apa yang dirasakan oleh semua orang. Tapi yang lebih berat karena kita cenderung dituduh atau dicurigai sebagai pelaku. Akibatnya kita mengalami berbagai bentuk kekerasan dan diskrikiminasi pasca 9/11 itu. Baik di lapangan maupun di level kebijakan pemerintahan saat itu. Oleh karenanya jangan kiranya kami dipandang pengecualian ketika kita mengingat hitam kelamnya peristiwa 9/11 itu.
Banyak poin-poin lainnya yang saya sampaikan di acara dialog tersebut. Tapi pada intinya menyampaikan bahwa masanya kita semua move on dan merubah cara pandang (mindset) kita dalam melihat komunitas lain di sekitar kita. Apa yang kita simpulkan kemarin tentang orang lain belum tentu sesuai jika kita berani melakukan “klarifikasi” dan berani keluar dari zona nyaman (confort zone) kita.
Saya menutup jawaban saya dengan ayat Al-Quran: “wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki dan seorang wanita. Lalu menjadian kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu di mata Tuhan adalah yang paling bertakwa”.
Maka tanggung jawab kita masing-masing adalah meyakinkan diri untuk membangun ketakwaan itu, baik pada tataran individu maupun pada tataran kehidupan kolektif kita. Pada tataran individu in tentu masing-masing agama punya jalannya, dan itu adalah pilihan masing-masing. Dalam bahasa Al-Qur’an disebutkan: bagimu agamamu dan bagiku agamaku.
Tapi pada tataran kolektif, seringkali kita memiliki komonalitas (common platform) yang kuat. Semua kita ingin keadilan, kedamaian, kemakmuran dan kebahagiaan.
Mari kita berfastabiqul khaerat (berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan).
New York, 1 September 2017
_________________________________________________________
*Presiden Nusantara Foundation
Read More »

Dahnil Bersama KOKAM Dihadang Polisi & Terjang Sungai ke Aksi Solidaritas Rohingya


Pihak kepolisian menutup seluruh akses jalan ke lokasi aksi solidaritas untuk Rohingya, di Magelang. Akibatnya, peserta aksi tidak bisa masuk ke Magelang. Oleh sebab itu, tak sedikit dari mereka yang nekad melintasi aliran sungai.
Demikian pula yang dialami Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak. Karena akses jalan ditutup, ia bersama rombongan pun terpaksa melintasi sungai bersama romobongannya.
“Iya (lewat sungai.red). Nggak bisa lewat, karena jalan ke Magelang ditutup pak polisi,” kata Dahnil saat dihubungi Kiblat.net pada Jumat (08/09).
Dahnil juga mengatakan bahwa ia memang sengaja tidak memberitahu ke polisi bahwa ia akan mengikuti aksi solidaritas ini. Selain itu, ia menegaskan sudah berjanji pada KOKAM Magelang untuk hadir di Masjid Jami’ Magelang, tempat digelarnya aksi.
“Saya sengaja nggak kasih tahu, supaya nggak tahu. Saya lewat sungai di daerah Tempel,” ungkapnya.
“Jadi tepatnya bukan karena Khusus saya tidak boleh lewat. Tapi memang semua yang menuju Magelang diblok,” imbuhnya.
Saati itu, ia menyampaikan kepada anggota KOKAM agar tetap tenang dan menahan emosi. Ia menegaskan, KOKAM harus memberikan contoh yang baik.
“Saya hanya minta kawan-kawan tenang dan tidak perlu emosional. Ada ribuan KOKAM yang sudah di Magelang. Saya bilang tidak perlu marah, berilah contoh yang baik,” tandasnya.











Sumber:(https://www.gemarakyat.id/ini-foto-foto-saat-dahnil-bersama-kokam-dihadang-polisi-terjang-sungai-ke-aksi-solidaritas-rohingya/)
Read More »

Ditelpon Erdogan, Suu Kyi mengatakan bahwa cerita palsu disebarkan untuk keuntungan kelompok teroris.


Wanita paling berkuasa di Myanmar Aung San Suu Kyi akhirnya buka mulut. Dalam pembicaraan dengan Presiden Turki Tayyip Erdogan, peraih Nobel Perdamaian yang sedang disoroti masyarakat dunia karena dianggap mendukung pembantaian terhadap etnis Rohingya di Rakhine, mengatakan bahwa yang terjadi saat ini adalah gunung es misinformasi yang sangat besar.
CNN mencatat pembicaraan dengan Erdogan ini sebagai kali pertama Aung San Suu Kyi berbicara sejak kerusuhan dan pembantaian terhadap etnis Rohingya kembali merebak sekitar dua pekan lalu.
Dalam pembicaraan dengan Erdogan itu, Suu Kyi juga mengatakan bahwa cerita palsu disebarkan untuk keuntungan kelompok teroris.
Berdasarkan transkrip pembicaraan kedua tokoh berpengaruh yang diperoleh CNN itu, disebutkan bahwa Suu Kyi menegaskan pihaknya sedang berusaha keras agar terorisme tidak menyebar ke seluruh wilayah Rakhine.
Dia juga mengatakan, pemerintah Myanmar telah bekerja keras melindungi hak etnis Rohingya.
“Kami sangat tahu apa artinya kehilangan hak asasi manusia dan perlindungan demokratis,” ujar Suu Kyi.
“Dengan demikian, kami meyakinkan bahwa semua orang di negara kami mendapatkan perlindungan atas hak mereka hak untuk, tidak hanya politik, tapi juga sosial dan perlindungan kemanusiaan,” demikian Suu Kyi.







Sumber:(https://www.gemarakyat.id/ditelpon-erdogan-syuu-kyi-ngeles-bilang-pembantaian-itu-hoax/)
Read More »

Anggota DPR Malaysia Dirikan Rumah Pustaka Buya Hamka

Anggota parlemen (DPR) Sungai Besar, Malaysia, Budiman Bin Mohd Zohdi, mendirikan rumah pustaka dan rumah tamu Hamka di daerah Sungai Panjang, Sungai Besar, Negara Bagian Selangor.
“Rumah Pustaka Hamka  diresmikan Sabtu 5 Agustus 2017 pukul 11.30,” ujar Budiman yang juga anggota DPRD Sungai Panjang saat ditemui di rumah dinasnya di Kuala Lumpur, Kamis.
Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, pemilik nama pena Hamka adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Ia melewatkan waktunya sebagai wartawan, penulis, dan pengajar.
Budiman mengatakan dirinya beberapa waktu lalu sudah ke Majlis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, Pusat Studi Buya Hamka, UHAMKA Jakarta dan Pengurus Masjid Agung Al-Azhar Jakarta.
“Saya sudah bertemu dengan anak Buya Hamka dan ke Masjid Agung yang pernah diurus Buya Hamka,” katanya.
Dia mengatakan koleksi buku-buku Hamka ada 74 judul buku dan ada juga perseorangan yang membantu menyumbang buku Hamka.
Dia bercerita pertama kali membaca buku karya Hamka saat kelas VI Sekolah Dasar sekitar 1984.
“Buku itu judulnya ‘Falsafah Hidup’. Saya memang tidak paham sebenarnya sehingga saya baca berulang-ulang kali dan akhirnya saya paham dan saya anggap ketika itu sekedar buku agama biasa,” katanya.
Ketika dirinya beranjak remaja, ujar dia, banyak ustadz-ustadz saat itu yang membincangkan buku dan tulisan Hamka.
“Dan Hamka ini populer di Malaysia karena pada tahun 1970-an beliau sering diundang di TV 1 dalam acara kuliah agama. Jadi memang Hamka ini memang sangat dekat dengan Malaysia dan bagi saya Hamka ini milik semua umat. Hamka ini milik nusantara,” katanya.
Pengarah Institut Terjemahan Buku Malaysia (ITBM) ini mengatakan Hamka ini adalah ulama nusantara yang bisa diambil sebagai model.
“Akhirnya semakin besar saya baca karya beliau yang lain seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Dibawah Lindungan Kabah dan buku-buku lain seperti Falsafah Hidup, Pedoman Hidup,” katanya.
Apabila kita menggali sosok Hamka, ujar dia, ada sesuatu yang membuat kagum walaupun karena tulisan beliau itu sangat manis dan sangat mudah dipahami karena itu dirinya berinisiatif mendirikan Rumah Pustaka Hamka.

Peresmian
Acara peresmian  diisi dengan ceramah Perjalanan hidup Buya Hamka, catatan suara nusantara oleh Prof Madya Dr Sonny Zulhuda, dosen Universitas Islam Antar Bangsa Malaysia (UIAM) yang juga Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Malaysia.
Kemudian bicara buku “Tasawuf Moderen” oleh Dr Wan Muhammad Adam Bin Wan Norudin, panel penasehat SLR Institute, kemudian pertunjukkan film atau wayang pacak “Dibawah Lindungan Kabah.
Menanggapi peresmian rumah pustaka tersebut, Ketua PCIM Malaysia, Sonny Zulhuda mengatakan pihaknya mendukung program ini dalam rangka penguatan dakwah serantau (regional) khususnya negara rumpun Melayu yang sangat mengenal dan menghormati Buya Hamka dan karya-karyanya.
“PCIM Malaysia turut berbangga karena Buya Hamka adalah tokoh ulama, cendekiawan dan pujangga nusantara yang memilih Muhammadiyah sebagai jalan pergerakannya,” katanya.
Dia mengharapkan PCIM yang merupakan pergerakan Muhammadiyah yang telah berkiprah lebih dari 105 tahun menjadi lebih dikenal di ranah Malaysia moderen ini terutama di kalangan generasi muda di Malaysia. (sp/atr)










Sumber:(http://sangpencerah.id/2017/08/anggota-dpr-malaysia-dirikan-rumah-pustaka-buya-hamka/)
Read More »

Pemuda Lintas Agama Berkumpul di PP Muhammadiyah, Keluarkan 8 Sikap Terkait Rohingnya


Siang ini Selasa (5/9) di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah hadir sejumlah tokoh lintas agama seperti Bambang Patijaya dari DPP Generasi Muda Buddhis Indonesia, Sures Kumar dari DPN Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia dan Maruli Tua Silaban dari DPP Perhimpunan Pemuda Gereja Indonesia. Mereka diundang Pemuda Muhammadiyah untuk menyikapi kejadian yang menimpa Rohingnya.
“Tragedi yang menimpa Rohingya merupakan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan pemerintah Myanmar secara sistematis dan terstruktur,” tegas Danhil Anzar Simanjuntak, Ketum PP Pemuda Muhammadiyah.
Kita tidak bisa diam terhadap praktik diskriminasi dan legalize genocide yang terjadi di Myanmar terhadap Etnis Rohingya, yang dilakukan oleh Regime De Facto Aung San Suu Kyi. Berulangkali etnis Rohingya mengalami pengusiran, pemukiman serta rumah mereka dibakar, dan yang paling menyedihkan anak anak dan perempuan menjadi korban. Tindakan pembantaian yang tidak beradab dilakukan Militer Myanmar adalah kejahatan kemanusiaan.
Berikut ini 8 sikap Forum Pemuda Lintas Agama terkait Rohingnya:
1.Sebagai bangsa beradab, kami sangat membenci dan mengutuk praktik diskriminasi dan legalize genocide terhadap Etnis Rohingya yang dilakukan oleh Regime De Facto Aung San Suu Kyi.
2.Tragedi yang menimpa Etnis Rohingya merupakan Kejahatan Kemanusiaan yang dilakukan secara sistematis, terstruktur, massif, dan meluas.
3.Mendesak kepada Pemerintah Indonesia terutama Presiden Jokowi dan Menteri Luar Negeri untuk bersikap tegas dan melakukan Political Pressure Diplomacy, karena kebijakan Diplomasi Sunyi terhadap Pemerintah Myanmar terbukti tidak berjalan efektif.
4.Mendesak kepada Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memberi perhatian serius terhadap Kejahatan Kemanusiaan praktik genosida yang menimpa etnis Rohingya, dan membawa pihak pihak yang harus bertanggung jawab untuk diadili kehadapan Mahkamah Kejahatan Internasional.
5.Meminta Komite Hadiah Nobel untuk mencabut penghargaan Aung San Suu Kyi Pemimpin yang berpengaruh di Myanmar memperoleh Nobel Perdamaian, ternyata telah terbukti misi perdamaian hanya untuk memperjuangkan kebebasan dirinya, bukan karena perjuangan atas nilai kemanusiaan.
6.Meminta Kedutaan Besar Myanmar yang ada di Indonesia secara terbuka menyampaikan sikap tegasnya kepada Pemerintah Myanmar untuk segera menghentikan praktik diskriminasi dan genosida terhadap Etnis Rohingya.
7.Kami mengajak kepada seluruh kelompok agama di Indonesia, untuk Tidak mengaitkan kelompok ekstrim Buddha di Myanmar dengan umat Buddha lain, yang pada dasarnya merawat perdamaian, apalagi kemudian merusak toleransi umat beragama di Indonesia, Mari kita sampaikan Pesan teladan kepada Berbagai kelompok agama di Myanmar.
8.Menolak segala bentuk provokasi untuk memperluas dan memindah konflik Myanmar ke Indonesia dengan membenturkan Umat Islam dan Umat Budha di Indonesia.
Demikian pernyataan sikap bersama Forum Pemuda Lintas Agama sebagai respon terhadap praktik diskriminasi dan genosida etnis Rohingya di Myanmar. (sp/red)







Sumber:(http://sangpencerah.id/2017/09/pemuda-lintas-agama-berkumpul-di-pp-muhammadiyah-keluarkan-8-sikap-terkait-rohingnya/)
Read More »

Uhamka Gelar Bedah Buku : Muhammadiyah dan NU Satu Keturunan

Kiprah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai dua organisasi besar di Indonesia sudah tak diragukan lagi. Meski memiliki corak dakwah yang tak sama, namun keduanya lahir dari tokoh pendirinya yang masih dalam satu keturunan dan satu perguruan. Hal ini seperti disampaikan oleh Anggota Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Zamah Sari.

“Kakek dari KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari sama. Yaitu Maulana Ainul Yakin bin Maulana Ishak. Keduanya juga memiliki referensi dan acuan Islam yang sama karena keduanya memiliki guru yang sama yakni Syeikh Ahmad Khathib Al-Minankabawi,” tutur Wakil Rektor Uhamka ini di sela kegiatan Bedah Buku di Sekolah Pascasarjana Uhamka, Kamis (15/6).
Senada dengan hal tersebut, Dosen UIN Sunan Kalijaga Munir Mulkan juga menilai bahwa Muhammadiyah dan NU memang terikat. “Muhammadiyah dan NU memanglah terikat karena sesungguhnya satu guru satu pengetahuan. Satu di antara kebiasaan yang terikat yakni mengenai majelis taklim,” ujarnya.
Selain menghadirkan Munir Mulkan, bedah buku bertajuk “Meluruskan Sejarah Muhammadiyah-NU” yang ditulis oleh dosen Uhamka, Maman A Majid ini juga dihadiri oleh Direktur Pascasarjana Uhamka Abdul Rahman A Ghani, serta budayawan, Mohammad Sobari.
Direktur Pascasarjana Uhamka, Abdul Rahman A Ghani mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, hal ini dapat dijadikan sebagai budaya dosen dalam menulis yang dapat menyokong akreditasi program studi serta institusi sendiri.
“Mudah-mudahan budaya menulis buku bakal ditularkan jadi budaya dosen-dosen di Uhamka,” ungkapnya.
Sementara itu, Penulis Maman A Majid menuturkan bahwa dilihat dari sejarahnya, Muhammadiyah dan NU pada dasarnya satu perguruan. Namun yang menjadi awal perpisahan keduanya yakni perbedaan pendapat antara Wahab Hasbullah dan Mas Mansur.
“Wahab Hasbullah mengajak KH Hasyim Asy’ari, sedangkan Mas Mansur menemui KH Ahmad Dahlan. Ini terjadi sekitar tahun 1929. Sejarah ini diungkap di buku ini,” pungkasnya.
Zamah Sari menambahkan, antara Muhammadiyah dan NU pada dasarnya tidak terjadi gesekan dan keduanya memiliki tugas masing-masing.
“Jadi tidak benar ada gesekan. Perdebatan dalam hal pendidikan atau lainnya itu hanyalah soal dinamika anak bangsa dari persepsi yang berbeda-beda. Jangan dipahami sebagai permusuhan. Justru bangsa ini besar karena menghargai keanekaragaman,” tandasnya (kk/ Yusri).








Sumber:(http://www.suaramuhammadiyah.id/2017/06/16/gelar-bedah-buku-uhamka-muhammadiyah-dan-nu-satu-keturunan/)
Read More »