Showing posts with label Aqidah Akhlak. Show all posts
Showing posts with label Aqidah Akhlak. Show all posts

Mengapa Nabi Isa As Dibunuh Dan Dijadikan “Tuhan’

Sebagai orang muslim harus merujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunah serta memperhatikan kitab-kitab tafsir dan data-data sejarah.
Di dalam al-Qur’an S. an-Nisa’ ayat 157 Allah berfirman:
Artinya: “Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah (mereka menyebut Isa putera Maryam itu Rasul Allah ialah sebagai ejekan, karena mereka sendiri tidak mempercayai kerasulan Isa itu)”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka ………. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.” [QS. an-Nisa’ (4): 157]
Penjelasan:
 Yang dimaksud dengan ucapan “mereka” ialah orang-orang Yahudi dan Romawi, bukan orang-orang Nasrani. Anggapan bahwa yang mengejar-ngejar dan membunuh Nabi Isa as adalah orang Nasrani adalah persepsi atau anggapan yang salah. Selanjutnya ayat di atas menjelaskan bahwa Nabi Isa as tidak meninggal karena dibunuh, tetapi yang dibunuh oleh tentara Romawi waktu itu adalah orang lain yang diserupakan (oleh Allah) sebagai Isa as. Orang itu namanya Yahuza al-Askharayuti yang disangka oleh yang membunuh sebagai Isa as.
Begitulah keterangan yang terdapat dalam kitab-kitab tafsir, juga dalam kitab-kitab Injil, antara lain dalam kitab Injil Barnabas. Bahkan dalam ayat 158 S. an-Nisa, Allah berfirman:
Artinya: “Tetapi Allah telah mengangkat (Isa as) kepada-Nya.” [QS. an-Nisa’ (4): 157]
Hanya mengenai perkataan “mengangkat” Isa oleh Allah sendiri ada dua penafsiran di kalangan para ahli tafsir, ahli hadis dan para fukaha, dengan memperhatikan sejumlah hadis-hadis Nabi saw serta dipertautkan pula kepada firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 55 yang berbunyi:
Artinya: “Sesungguhnya Aku (Allah) yang mewafatkan dan mengangkat engkau kepadaku.” [QS. Ali Imran (3): 55]
Masalah ini tidak kami uraikan lebih jauh, karena tidak ada korelasi dan substansinya dengan pertanyaan Bapak.
Barangkali yang perlu kami tambahkan uraian tentang anggapan kaum Nasrani bahwa Nabi Isa as mati dibunuh/disalib atas kemauan Nabi Isa as sendiri, untuk menebus dosa Nabi Adam dan anak cucu keturunannya yang dianggap sebagai dosa warisan. Faham ini pun sebenarnya sangat keliru, sebab Nabi Adam as telah minta ampun kepada Allah dan Allah telah mengampuninya seperti tersebut dalam surat al­-Baqarah ayat 27:
Artinya: “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [QS. al-Baqarah (2): 37]
Al-Qur’an juga mengajarkan bahwa dosa seseorang tidak ditanggung oleh orang lain. Jadi keyakinan orang Nasrani dalam masalah tersebut sangat-sangat keliru, yang oleh pengarang Tafsir al-Munir Wahbah az-Zuhaili disebut dengan sebutan “dugaan orang Nasrani belaka” bahkan tambah Wahbah az-Zuhaili: “Persoalan tebusan dosa itu tidak bisa diterima oleh orang yang berfikir normal
Di dalam tafsir al-Manar, as-Sayyid Rasyid Ridha rnenjelaskan tentang asal-usul paham/keyakinan Isa as disalib, sebagai berikut:
Artinya: “Bahwasannya cerita penyaliban (Isa as) tidak ada sandarannya yang bersambung kepada individu-individu yang diriwayatkan dari mereka. Orang-orang yang meriwayatkan cerita itu benar-benar tidak dikenal secara meyakinkan, sebagaimana diketahui dari Ensiklopedi Perancis dan buku-buku lainnya yang dikarang oleh ilmuwan-ilmuwan Eropa secara bebas, sebenarnya sesuatu yang dapat diperoleh dari kumpulan riwayat-riwayat tersebut yang terputus sandaranya itu adalah bahwa orang pertama yang membuat kepercayaan (aqidah) salib di kalangan orang-orang Nasrani sekarang ini adalah Paulus yang berdarah Yahudi, dia adalah orang yang sangat benci dan memusuhi al-Masih as.”
Bahkan lanjut Rasyid Ridla, Paulus sengaja mengakui dirinya sebagai orang Nasrani supaya apa yang disampaikan dapat dipercaya dan diterima oleh orang-orang Nasrani. Ia tak ubahnya sebagai musang berbulu ayam (munafik).
Hal ini mengingatkan kita kepada peran yang dimainkan Ibnu Saba’ (orang Yahudi) di zaman Islam yang mencoba untuk merusak akidah orang-orang Islam dengan mengatakan bahwa orang yang berhak sebagai khalifah sepeninggal Rasulullah saw adalah Ali bin Abi Thalib.
Ibnu Saba’ berargumen bahwa Nabi saw pernah mengatakan, kedudukan Nabi saw dan ‘Ali adalah seperti kedudukan Musa as dengan Harun as. Usaha Ibnu Saba’ dapat dikatakan setengah berhasil di masa Khalifah Usman dan Khalifah ‘Ali. Dia dapat mengadudomba antara umat Islam yang mengakibatkan timbul malapetaka besar (الفِتْنَةُ الْكُبْرَى) dengan terbunuhnya Khalifah Usman dan juga peristiwa-peristiwa yang menyedihkan yang menimpa umat Islam di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.
Kami tegaskan sekali lagi bahwa Isa as tidak dibunuh oleh orang-orang Nasrani dan tidak pula dibunuh oleh orang-orang Yahudi, tetapi yang dibunuh oleh tentara Romawi atas provokasi orang-orang Yahudi adalah orang yang bernama Yahuza al-Ashkarayuti seperti telah kami sebutkan di atas.
Mengenai mengapa kemudian orang-orang Nasrani menjadikan Isa as sebagai Tuhan dan disembah oleh mereka. Hal itu berpangkal pada keyakinan kaum Nasrani bahwa Isa as adalah anak Tuhan, karena Isa as lahir tidak punya bapak yang berupa manusia, oleh orang-orang Nasrani dianggap bahwa Allah telah bertajalli (bersenggama) dengan Maryam. Di dalam al-Qur’an surat at-Taubah ayat 30 disebutkan:
Artinya: “Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “al-Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?”
Di dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 59 Allah berfirman:
Artinya: “Sesungguhnya _issal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.”
Sehubungan dengan ayat ini, Ibnu Katsir berkomentar:
Artinya: “Di dalam ayat mulia ini Allah Tabaraka wata’ala bermaksud untuk menampakkan kekuasaannya bagi makhluk-Nya ketika Ia menciptakan Adam tidak dan laki-laki (ayah) dan tidak dari perempuan (ibu), dan Dia menciptakan Hawa’ dari laki (Adam) tanpa perempuan (ibu) dan Dia menciptakan Isa dari perempuan (ada ibu) tanpa laki-laki (ayah) sebagaimana Dia telah menciptakan makhluk lainnya dari laki (ada ayah) dan perempuan (ada ibu).” [Tasir al-Qur’an al-Adhim, I: 323]
Menurut/sepanjang penyelidikan kami ayat 59 Surat Ali ’Imran ini turun sehubungan dengan perilaku orang-orang Nasrani Najran dimana mereka menjadikan kelahiran al-Masih as yang bersifat mu’jizat itu sebagai dalil atas ketuhanan isa as dan sebagai anak Allah, lalu turun ayat di atas merespon perilaku salah mereka itu dalam anggapan yang demikian itu. [baca حَيَاةُ اْلمَسِيحِ , karangan dari Hanan Qarquni hal 150]
Dengan uraian singkat ini kiranya sudah terjawab dua substansi dalam pertanyaan itu, yaitu mengapa Isa as dikejar-kejar dan ingin membunuhnya, serta mengapa Isa itu disembah dan dijadikan Tuhan oleh orang-orang Nasrani. Semoga jawaban ini bermanfaat bagi Bapak dan teman-teman Bapak lainnya dan teruskan berda’wah.
Wallahu a’lam bish-shawab










Sumber:(http://www.suaramuhammadiyah.id/2016/05/05/mengapa-nabi-isa-as-dibunuh-dan-dijadikan-tuhan/3/)
Read More »

Kriteria Jomblo Berkualitas dalam Ajaran Islam

Tentang jodoh, yang selalu mempunyai tempat tersendiri untuk selalu dibahas. Memiliki daya tarik yang kuat, terutama bagi mereka yang selama ini masih hidup “sendiri”. Karena masih banyak pemuda-pemudi yang galau tentang masalah jodoh. Meskipun, ada sebagian yang mengelak tak pernah galau tentang jodoh, tapi jauh di dalam hatinya pasti sangat merindukan kehadiran belahan jiwa.

Siapa sih yang ingin hidup menyendiri? Pertanyaan yang Anda sendiri bisa menjawabnya, dan saya kira semua orang akan menjawab dengan jawaban yang sama. Setiap manusia dilahirkan secara fitrah tidak bisa hidup sendiri, membutuhkan orang lain, termasuk jodoh. Jodoh yang memang bisa membuat diri kita, semakin dekat dengan Allah dan Rasul-Nya.

Jomblo adalah gelar yang disematkan kepada mereka yang belum menikah. Gelar yang terkadang membuat risih penyandangnya, yang membuat resah dan ingin bersegera melepas gelar tersebut. Tapi, tidak semua jomblo seperti itu. Justru ada yang bangga dengan kejombloannya, karena terhindar dari tradisi barat yang sering kita sebut dengan istilah pacaran.

Jomblo di negeri ini memang sangat banyak. Terbukti, akhir-akhir ini banyak sekali seminar-seminar tentang persiapan pernikahan. Mungkin, sebagian dari mereka masih belum memiliki ilmu yang cukup untuk membina rumah tangga. Selain itu, buku-buku yang membahas tentang indahnya menjomblo sampai halal pun banyak sekali.

Intinya, mempersiapkan diri sebelum menjemput jodoh impian. Bahkan, yang menceritakan lika-liku pencarian jodoh pun sangat banyak. Dari kegagalan-kegagalan mencari jodoh, hingga kisah kesuksesan meraih rumah tangga yang sakinah.

Ikhwan dan akhwat, dua jenis manusia yang ada di dunia jomblo. Selain itu, panggilan khas lainnya yaitu akhi dan ukhti. Sekilas memang menyenangkan, tapi dari sinilah terkadang kita tertipu. Tertipu, karena kita sering kali menjadikan standar aktivis dakwah, yang menurut kita sudah saleh atau salehah dan layak untuk dijadikan pasangan hidup. Tetapi ternyata kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Terbukti, banyak akhwat atau ikhwan yang mempermainkan perasaan, padahal mereka belum memiliki kesiapan serta niatan yang terkadang kurang benar.

Namun, di sisi lain ada yang menjaga hati dengan sangat hati-hati. Merekalah, jomblo dengan kualitas terbaik. Tidak mudah dipermainkan perasannnya oleh sesama jomblo. Mereka yang mampu menjaga kemuliaan dirinya dengan baik, mampu menjaga pandangan, mampu menjaga kehormatan, serta mencintai dan membenci hanya karena Allah. Merekalah, jomblo-jomblo yang paling dicari, laki-laki maupun perempuan.

Perempuan mana yang tega menolak lamaran lelaki dengan kualiatas terbaik. Lelaki yang bisa dikatakan saleh, indah akhlaknya, tinggi ilmu agamanya, tampan rupanya, memiliki pekerjaan yang baik, serta luas manfaatnya untuk lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, mana ada lelaki yang menyia-nyiakan seorang perempuan yang salehah, indah akhlaknya, tinggi ilmu agamanya, serta cantik parasnya, yang cerdas dan seperangkat fitur lengkap lainnya.

Tapi kenyaataannya, masih banyak lelaki dan perempuan yang berkualitas tapi masih sendiri alias jomblo. Banyak faktor yang menjadi penyebab mereka saat ini masih betah dengan kejombloannya. Antara lain: tuntutan pekerjaan, faktor keadaan ekonomi, kurang maksimalnya usaha mencari jodoh, dan sebagainya.

Alasan-alasan itulah yang selalu membayangi mereka. Padahal, di sisi lain, keinginan mereka untuk segera menikah begitu menggebu-gebu. Terutama pihak lelaki, di zaman sekarang yang apapun memerlukan biaya yang tidak murah, dituntut untuk mampu memberikan fasilitas terbaik untuk keluarga kecilnya kelak. Dari pihak perempuan, dituntut untuk bisa membantu menghasilkan tambahan untuk menyokong keadaan ekonomi keluarga.

Memang, persyaratan untuk menikah tidak serumit yang kita bayangkan (baca: nikah dalam islam). Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa terbuka dengan calon pasangan kita. Dengan memberikan informasi tentang kita seutuhnya saat proses ta’aruf. Meluruskan niat untuk menggenapkan separuh agama, akan menguatkan komitmen saat membina mahligai rumah tangga.

Bukankah lebih mudah dan bisa diterima jika si saleh dan si salehah menjalin ikatan suami istri. Keduanya sama-sama saleh, tinggi ilmu agamanya, indah akhlaknya, rupawan parasnya, dan tak ada lagi yang seharusnya dikhawatirkan. Bukankah, jika dua insan bekerjasama untuk menegakkan agama Allah serta mengikuti sunah Rasul, Allah akan memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya. Namun, masih banyak dari mereka yang pilih-pilih, atau mungkin masih ragu ketika ada seseorang yang ingin mengajak ta’aruf. Selain itu, rasa gengsi, malu, kurang percaya diri dari kedua pihak pun terkadang menjadi penyebabnya.

Si ikhwan malu untuk meminang si akhwat, karena sadar jika si akhwat kedudukannya lebih tinggi. Padahal, si akhwat sudah menunggu lama si ikhwan untuk meminangnya. Ada juga si akhwat yang memendam cinta pada seorang ikhwan yang diidamkan, namun tak berani mengungkapkan dengan alasan gengsi atau takut di cap akhwat agresif. Mungkin juga si ikhwan yang diidamkan sebenarnya mencintainya, namun khawatir jika keinginannya untuk meminang sang akhwat ditolak.

Tak lama kemudian, mereka mendapat kabar, jika sang ikhwan atau akhwat yang diidamkan ternyata menikah dengan orang lain. Mereka galau, mencoba menghibur diri, lalu menganggap ini sebagai cobaan hidup. Apakah ini memang cobaan hidup, atau mereka yang kurang maksimal usahanya? Lalu, siapa yang harus disalahkan? Hehehe.

Jika pada suatu hari, Anda sedang menyendiri tapi resah dengan kondisi kesendirian Anda, itu pertanda Anda harus segera melepas gelar jomblo secara terhormat. Jika nanti, Anda menemukan teman-teman Anda sudah menimang buah hati, lalu ada rasa untuk bisa seperti mereka, itu pertanda jika anda sudah pantas untuk menikah.

Seandainya nanti, Anda bertemu dengan seseorang yang membuat anda dekat dengan Allah dan Rasul-Nya, membuat Anda mantap untuk bekerjasama dunia akhirat, dengan standar yang sesuai syariat, kemungkinan dia adalah seseorang yang Anda tunggu selama ini. Tunggu apalagi, jangan sia-siakan dia yang saat ini mungkin menunggu kehadiran Anda dalam kehidupannya.

Jangan pernah malu untuk melakukan kebaikan, jika memang itu baik, lakukanlah. Saat ini tak perlu lagi ada rasa gengsi, malu dan tidak percaya diri. Termasuk untuk meminang seseorang. Allah menciptakan kita berpasang-pasangan, tugas kita bukan menjadi yang terbaik, tapi menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Bukankah lebih menyenangkan jika kita tidak sendiri, ada seseorang yang setia menemani kita di setiap langkah kita sesuai apa yang diperintahkan Allah.

Kita tak pernah tahu, apakah ajal atau jodoh yang terlebih dulu menjemput kita. Tapi, kita bisa memilih pasangan dan mengupayakany, setidaknya agar kita bisa menikah. Menikah karena Allah, karena seburuk-buruknya hamba dihadapan Allah adalah mereka yang kembali kepadaNya dalam keadaan membujang.

Berdoa lalu bersegeralah untuk menyiapkan semuanya. Jika saat ini anda masih sendiri, semoga dalam waktu dekat Allah mempertemukan dan menyatukan dengan jodoh anda, dalam ikatan pernikahan yang diberkahi-Nya. Aamiin.

Mochammad Fadhlurrohman Nafis
Mahasiswa LIPIA
Twitter: @emefrahmanen

Read More »